Tampilkan postingan dengan label Rohani. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rohani. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 Juli 2010

Ikhwan GANTENG, Partner Sejati Akhwat?

Oleh : Ayat Al Akrash 

Hudzaifah.org - Alangkah indahnya Islam. Kedudukan manusia dinilai dari ketaqwaannya, bukan dari gendernya. Ini adalah strata terbuka sehingga membuka peluang bagi siapa saja untuk memasuki strata taqwa.

Ikhwan dan akhwat adalah dua makhluk Allah Subhanahu wa Ta’ala yang berbeda. Ikhwan, sebagaimana ia, memang diciptakan lebih dominan rasionalitasnya karena ia adalah pemimpin bagi kaum hawa. Akhwat, sebagaimana ia, memang diciptakan lebih dominan sensitivitas perasaannya karena ia akan menjadi ibu dari anak-anaknya.

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. 9: 71)

Di lapangan, ikhwan dan akhwat memang harus menjaga hijab satu sama lain, namun tentu bukan berarti harus memutuskan hubungan, karena dalam da’wah, ikhwan dan akhwat adalah seperti satu bangunan yang kokoh, yang sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain.

Belakangan ini menjadi sebuah fenomena baru di berbagai LDK kampus tentang sedikit ‘konfrontasi’ ikhwan dengan akhwat. Tepatnya, tentang kurang cepat tanggapnya da’wah para ikhwan yang notabene adalah partner da’wah dari akhwat.

Patut menjadi catatan, mengapa ADK akhwat selalu lebih banyak dari ADK ikhwan. Walau belum ada penelitian, tetapi bila melihat data kader, pun data massa dimana jumlah akhwat selalu dua sampai tiga kali lipat lebih banyak dibandingkan ikhwan, maka dapat diindikasikan bahwa ghirah, militansi dan keagresifan berda’wah akhwat, lebih unggul. Dan meski memang hidayah itu dari AllahSubhanahu wa Ta’ala , namun tentu kita tak dapat mengabaikan proses ikhtiar.

Akhwat Militan, Perkasa dan Mandiri?
Sejak kapankah adanya istilah Akhwat militan, perkasa dan mandiri ini? Berdasarkan dialog-dialog yang penulis telaah di lapangan, dan di beberapa LDK, ternyata hampir semua akhwat memiliki permasalahan yang sama, yaitu tentang kurang cepat tanggapnya ikhwan dalam menghadapi tribulasi da’wah. Bahkan ada sebuah rohis yang memang secara turun temurun, kader-kader akhwatnya terbiasa mandiri dan militan. Mengapa? Karena sebagian besar ikhwan dianggap kurang bisa diandalkan. Dan ada pula sebuah masjid kampus di Indonesia yang hampir semua agenda da’wahnya digerakkan oleh para akhwat. Entah hilang kemanakah para ikhwan.

Akibat seringnya menghadapi ikhwan semacam ini, yang mungkin karena sangat gemasnya, penulis pernah mendengar doa seorang akhwat, “Ya Allah…, semoga nanti kalau punya suami, jangan yang seperti itu… (tidak cepat tanggap–red),” ujarnya sedih. Nah!

Ikhwan GANTENG
Lantas bagaimanakah seharusnya ikhwan selaku partner da’wah akhwat? Setidaknya ada tujuh point yang patut kita jadikan catatan dan tanamkan dalam kaderisasi pembinaan ADK, yaitu GANTENG (Gesit, Atensi, No reason, Tanggap, Empati, Nahkoda, Gentle). Beberapa kisah tentang ikhwan yang tidak GANTENG, akan dipaparkan pula di bawah ini.

1. (G) Gesit dalam da’wah
Da’wah selalu berubah dan membutuhkan kegesitan atau gerak cepat dari para aktivisnya. Ada sebuah kisah tentang poin ini. Dua orang akhwat menyampaikan pesan kepada si fulan agar memanggil ikhwan B dari masjid untuk rapat mendesak. Sudah bisa ditebak…, tunggu punya tunggu…, ikhwan B tak kunjung keluar dari masjid. Para akhwat menjadi gemas dan menyampaikan pesan lagi agar si fulan memanggil ikhwan C saja. Mengapa? Karena ikhwan C ini memang dikenal gesit dalam berda’wah. Benar saja, tak sampai 30 detik, ikhwan C segera keluar dari masjid dan menemui para akhwat. Mobilitas yang tinggi.

2. (A) Atensi pada jundi
Perhatian di sini adalah perhatian ukhuwah secara umum. Contoh kisah bahwa ikhwan kurang dalam atensi adalah ketika ada rombongan ikhwan dan akhwat sedang melakukan perjalanan bersama dengan berjalan kaki. Para ikhwan berjalan di depan dengan tanpa melihat keadaan akhwat sedikitpun, hingga mereka menghilang di tikungan jalan. Para akhwat kelimpungan.., nih ikhwan pada kemana? “Duh.., ikhwan ngga’ liat-liat ke belakang apa ya?” Ternyata para ikhwan berjalan jauh di depan, meninggalkan para akhwat yang sudah kelelahan.

3. (N) No reason, demi menolong
Kerap kali, para akhwat meminta bantuan ikhwan karena ada hal-hal yang tidak bisa dilakukan oleh akhwat. Tidak banyak beralasan dalam menolong adalah poin ketiga yang harus dimiliki olah aktivis. Contoh kisah kurangnya sifat menolong adalah saat ada acara buka puasa bersama anak yatim. Panitia sibuk mempersiapkannya. Untuk divisi akhwat, membantu antar departemen dan antar sie adalah hal yang sudah seharusnya dilakukan. Para akhwat ini kemudian meminta tolong seorang ikhwan untuk memasang spanduk. “Afwan ya…, amanah ane di panitia kan cuma mindahin karpet ini…,” jawab sang ikhwan sambil berlalu begitu saja karena menganggap tugas itu bukanlah amanahnya.

4. (T) Tanggap dengan masalah
Permasalahan da’wah di lapangan semakin kompleks, sehingga membutuhkan aktivis yang tanggap dan bisa membaca situasi. Sebuah kisah, adanya muslimah yang akan murtad akibat kristenisasi di sebuah kampus. Aktivis akhwat yang mengetahui hal ini, menceritakannya pada seorang ikhwan yang ternyata adalah qiyadahnya. Sang ikhwan ini dengan tanggap segera merespon dan menghubungi ikhwan yang lainnya untuk melakukan tindakan pencegahan pemurtadan.

Kisah di atas, tentu contoh ikhwan yang tanggap. Lain halnya dengan kisah ini. Di sebuah perjalanan, para akhwat memiliki hajat untuk mengunjungi sebuah lokasi. Mereka kemudian menyampaikannya kepada ikhwan yang notabene adalah sang qiyadah. Sambil mengangguk-angguk, sang ikhwan menjawab, “Mmmm….”
“Lho… terus gimana? Kok cuma “mmmmm”…” tanya para akhwat bingung.
Sama sekali tidak ada reaksi dari sang ikhwan.
“Aduh… gimana sih….” Para akhwat menjadi senewen.

5. (E) Empati
Merasakan apa yang dirasakan oleh jundi. Kegelisahan para akhwat ini seringkali tercermin dari wajah, dan lebih jelas lagi adalah dari kata-kata. Maka sebaiknya para ikhwan ini mampu menangkap kegelisahan jundi-jundinya dan segera memberikan solusi.

Sebuah kisah tentang kurang empatinya ikhwan adalah dalam sebuah perjalanan luar kota dengan menaiki bis. Saat telah tiba di tempat, ikhwan-akhwat yang berjumlah lima belas orang ini segera turun dari bis. Dan bis itu segera melaju kembali. Para akhwat sesaat saling berpandangan karena baru menyadari bahwa mereka kekurangan satu personel akhwat, alias, tertinggal di bis! Sontak saja para akhwat ini dengan panik, berlari dan mengejar bis. Tetapi tidak demikian halnya dengan ikhwan, mereka hanya berdiri di tempat dan dengan tenang berkata, “Nanti juga balik lagi akhwatnya.”

6. (N) Nahkoda yang handal
Laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita. Ia adalah nahkoda kapal. Lantas bagaimanakah bila sang nahkoda tak bergerak? Alkisah, tentang baru terbentuknya kepengurusan rohis. Tunggu punya tunggu…, hari berganti hari, minggu berganti minggu, ternyata para ikhwan yang notanebe adalah para ketua departemen, tak kunjung menghubungi akhwat. Akhirnya, karena sudah “gatal” ingin segera gerak cepat beraksi dalam da’wah, para akhwat berinisiatif untuk “menggedor” ikhwan, menghubungi dan menanyakan kapan akan diadakan rapat rutin koordinasi.

7. (G) Gentle
Bersikap jantan atau gentle, sudah seharusnya dimiliki oleh kaum Adam, apatah lagi aktivis. Tentu sebagai Jundullah (Tentara Allah) keberaniannya adalah di atas rata-rata manusia pada umumnya. Namun tidak tercermin demikian pada kisah ini. Sebuah kisah perjalanan rihlah. Rombongan ikhwan dan akhwat ada dalam satu bis. Ikhwan di depan dan akhwat di belakang. Beberapa akhwat sudah setengah mengantuk dalam perjalanan. Tiba-tiba bis berhenti dan mengeluarkan asap. Para ikhwan segera berhamburan keluar dari bis. Tinggallah para akhwat di dalam bis yang kelimpungan. “Ada apa nih?” tanya para akhwat. Saat mereka menyadari adanya asap, barulah akhwat ikut berhamburan keluar. “Kok ikhwan ninggalin gitu aja…” ujar seorang akhwat dengan kecewa.

Penutup
Fenomena ketidak-GANTENG-an ikhwan ini, akan dapat berpengaruh pada kinerja da’wah ikhwan-akhwat. Ikhwan dan akhwat adalah partner da’wah yang senantiasa harus saling berkoordinasi. Ar rijal Qawwamuna ‘alannisa. Masing-masing ikhwan dan akhwat memang mempunyai kesibukannya sendiri, namun ikhwan dilebihkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu sebagai pemimpin. Sehingga wajar saja bila yang dipimpin terkadang mengandalkan dan mengharapkan sang qawwam ini bisa jauh lebih gesit dalam berda’wah (G), perhatian kepada jundinya (A), tidak banyak alasan dalam menolong (N), tanggap dalam masalah (T), empati pada jundi (E), menjadi nahkoda yang handal (N) dan mampu memberikan perlindungan (G). Kita harapkan, semoga semakin banyak lagi ikhwan-ikhwan GANTENG yang menjadi qiyadah sekaligus partner akhwat. Senantiasa berkoordinasi. Teman sejati, ukhuwah di dunia dan di akhirat. Amiin. (Ayat Al Akrash)

Ukhuwah yang gimana seeh Wan???

Dah pernah baca artikel yang judulnya “IKHWAN GANTENG, Partner Sejati Akhwat?” hmm...bagi yang belom, ane saranin untuk membacanya (terutama bagi si ikhwan). Browsing aja, pasti dapet! Penulisnya adalah Ayat Al Akrash. 

Di sini ane gak akan mengulasnya kembali. Ane cuma pengen cuap-cuap aja. Yah ikutan nimbrung, walaupun kagak nyambung, yang penting gak buat bingung en gak menyinggung (tapi kalo ada yang ngerasa, mohon diafwanin yaa).

Sebuah kasus klasik yang melanda aktivis dakwah. Mulai dari dakwah kampus sampai dakwah kampung. Tentang sebuah kata bernama “UKHUWAH”. Sebuah kata yang memiliki berjuta kekuatan. Sebuah kata yang dapat menghimpun milyaran manusia. Menjalin persatuan. Membangun peradaban. Persaudaraan islam. Jalinan yang diikat oleh tali cintaNya.

“ukhuwah adalah buah dari kualitas keimanan. Semakin bagus kualitas keimanan seseorang, semakin bagus pula pemahaman dan penerapan nilai ukhuwahnya. Karenanya imam syahid Hasan Al Banna menegaskan, dakwah dibangun di atas keimanan yang melahirkan ukhuwah dan jama’ah yang membawa kepada persatuan.” (hatur tengkyu buat seseorang yang telah melayangkan taujihnya ke HP ana. Semoga ia bukan sekadar tulisan ato sms gratisan yang mubadzir kalo ga digunakan. Apalagi kalo cuma numpang buang bonus pulsa, emang HP ane tempat sampah?! Jika kata-kata keluar dari hati, maka akan masuk ke hati. Jika dari lisan, ia hanya lewat pendengaran. Dan jika dengan tulisan, ia mudah terlupakan. Semoga ia bukan sekadar taujih tapi tertanam di hati, tertancap di sanubari, dan berakar di uranadi, lalu terwujud dalam amal sehari-hari. Amiien)

nah, yang ana tulis di sini adalah kasus renggangnya jalinan ukhuwah antar aktivis dakwah. Sebenarnya pokok bahasan ini luas banget, tapi ana lebih menyoroti ukhuwah antara ikhwan dan akhwatnya. Dan ana hanya memotret yang terjadi di kampus ana (kalo ada kesamaan dengan kampus lain, semoga aja cua-cuap ini bisa jadi bahan sharring dan mengantarkan pada forum diskusi untuk pembahasan lebih lanjut. Tafadhol kalo ada yang mau menanggapi, mengkritisi, mengomentari, atau sekadar memberi solusi)

jadi, begini ceritanya...

Stok ikhwan di kampus ane tuh terbatas. Sampai-sampai UKKI (Unik Kegiatan Kerohanian Islam) salah satu LDK di kampus ane diubah kepanjangannya menjadi Unit Kegiatan Kekurangan Ikhwan. Ane sich sepakat aja. Wong kenyataannya emang begono (eh, begitu). Nah karena minimnya jumlah ikhwan, maka banyak dari mereka yang double, tripel, bahkan kuartet amanah. Mau gak mau mereka harus mau (sami’na wa atho’na) menerima amanah, karena gak bisa dipungkiri peran ikhwan memang sangat dibutuhkan (ayo donk ikhwan, rekrutmennya lebih semangat lagi yaaak. ALLAHU AKBAR!) kalo dibuat perbandingan, ikhwan dan akhwat bandingannya 1: 5 (data sementara yang dapat terdeteksi). Tuh kan, melebihi sunnah rasul (ups! Afwan, gak ada hubungannya koq). Wajar sie...sekadar informasi, kampus ane memang pendidikan, jadi kaum hawalah yang lebih dominan. Tapi bukan berarti ikhwan gak bisa menambah jumlah kader dakwahnya kaaaan...??

Sedikit gambaran, kampus ane tu objek dakwahnya beragam dan rada-rada sulit. Kutu, kupu-kupu, kura-kura, kutilang, sampai kunang-kunang bertebaran di kampus ane (wah kebon binatang donk!). maksudnya karakter mahasiswanya beraneka ragam. Ada jenis kutu (kuliah-tugas), julukan ini buat mereka yang SO (Study Oriented). Trus ada kura-kura (kuliah-rapat, kuliah-rapat), tipe mahasiswa yang aktivis. Yang paling banyak nih yang tipe kupu-kupu (kuliah-pulang, kuliah-pulang), penyakit home-sick nya kambuh. Yang paling parah dan berbahaya adalah kutilang (kuliah-tidur-ngilang), habiz kuliah kerjanya tidur, truz kalo dikasih amanah menghilang entah ke mana, diajak syuro nggak datang, disuruh jadi panitia menghindar. Wadooww...capede!! Ada juga yang tipe kunang-kunang (kuliah-nangis, kuliah-nangis), he...he...yang ini ngarang sendiri. “Mokso” nih namanya! Apa ya enaknya? Whatever! (selengkapnya, baca di http://masawie.wordpress.com Matur suwun Mas ilmunya

Kembali ke soal ukhuwah. Jadi ikhwan2 di kampus ana lagi pada kendor semangat dakwahnya, alasannya karena ikhwan merasa gak dipeduliin ma akhwat yang jumlahnya jauh lebih banyak dari si ikhwan. Karena ikhwan sangat terbatas dan amanah mereka juga banyak yang double, maka para akhwat gak mau ngerepotin. “Kalo bisa ditanganin sendiri, kenapa harus dikerjain ma ikhwan? Ikhwan dah cukup sibuk dengan amanah dakwah, kuliah, ma’isyah, dsb. Qta gak mau dibilang akhwat manja”, kata si akhwat. Jadi akhwat di sini tu pada mandiri, lemper (lembut tapi perkasa), tangguh en militan (amiiin). Istilahnya kalo di sini, akhwat naik mercy, ikhwannya naik dokar. Jadi akhwat yang bergerak cepat. Akhirnya timbul prasangka dari si ikhwan, “qta kayak gak berguna, seolah-olah akhwat yang menjadi qiyadah, dan qta jundinya. Persaudaraan dah tinggal nama. Kata ukhuwah islamiyah juga hanya slogan. Kerjanya nafsi2, infiradhi, ga ada amal jama’i. Sama saudara sendiri aja gak kenal. Yang mana saudara ana? Ikhwan-akhwat hanya sebatas partner kerja. Dateng syuro, jadi penitia, sudah! Kalo sodaranya lagi ada masalah, cuek aja! Kalo sodaranya lagi futur, dibiarin! Di mana kata ukhuwah?”, kata salah seorang ikhwan saat forum sharring di dauroh ADK (aktivis dakwah kampus) beberapa hari yang lalu. Gitu... jadi ikhwan di sini butuh perhatian, perlu di motivasi ma akhwatnya. Nah, takutnya ntar malah timbul fitnah. Apalagi kabarnya sekarang VMJ sudah menyebar di komputer2 hati para ADK di sini. Duh...gawat kan?! Qta (akhawat) jadi bingung. Maunya ikhwan tu ukhuwah yang seperti apa? Ana juga ikut2an pusing nih, karena ini bisa jadi hambatan dakwah juga. Kurangnya koordinasi ikhwan-akhwat juga sering menimbulkan misscomunication, missunderstanding, dan mis-mis yang lain.

Nah frens fillah...mungkin diantara kalian ada yang punya solusi, gimana cara membangkitkan semangat juang ikhwan tanpa harus menimbulkan fitnah. Atau ngasih jawaban sebenarnya ukhuwah yang gimana sih yang diinginkan para ikhwan? sampai mana batasan yang diperbolehkan (syar’ie) dalam berinteraksi ikhwan-akhwat? Adakah yang bisa membantu kebingungan ana? Yah, sekali lagi ana masih belajar dan akan terus belajar. So, bagi-bagi ilmunya doonk....

Jazakumullah khairan katsiir atas tanggapan, komentar, jawaban dan solusinya...
ditunggu yaaaks!

Related Posts with Thumbnails